Oleh: Rizka Amalia
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Palangka Raya)
Betang.tv – Fenomena penggunaan bahasa gaul di kalangan Generasi Z kian marak di media sosial. Ungkapan seperti “bestie,” “no counter,” “gaskeun,” “anjay,” hingga “slay” sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di dunia maya. Namun, di balik keunikan dan kreativitasnya, muncul perdebatan: apakah tren ini merupakan bentuk evolusi bahasa, atau justru degradasi dari bahasa Indonesia yang baku?
Bahasa selalu berkembang mengikuti zaman. Dosen linguistik Universitas Indonesia, Dr. R. Widyastuti, menilai bahwa munculnya kosakata baru di kalangan Gen Z menunjukkan dinamika positif dalam komunikasi. “Bahasa gaul adalah cerminan kreativitas generasi muda. Mereka beradaptasi dengan teknologi, budaya pop, dan globalisasi,” ujarnya. Menurutnya, selama digunakan dalam konteks informal, bahasa gaul bukan ancaman bagi bahasa Indonesia.
Namun, di sisi lain, kekhawatiran muncul ketika bahasa gaul mulai merambah ke ranah formal seperti tulisan akademik, laporan, bahkan komunikasi resmi. Beberapa guru dan pemerhati bahasa menilai fenomena ini bisa menurunkan kemampuan generasi muda dalam berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. “Anak-anak sekarang sering mencampur bahasa Inggris, singkatan, dan kata-kata yang bahkan tidak ada di KBBI. Kalau tidak dibimbing, mereka bisa kehilangan rasa hormat terhadap kaidah bahasa,” ujar Siti Rahmah, guru bahasa Indonesia di salah satu SMA di Palangka Raya.
Media sosial seperti TikTok, X (Twitter), dan Instagram menjadi wadah utama penyebaran istilah baru. Dalam hitungan hari, satu kata bisa viral dan menjadi tren nasional. Misalnya, kata “vibes” yang awalnya berasal dari bahasa Inggris kini digunakan secara luas oleh Gen Z untuk menggambarkan suasana atau perasaan tertentu.
Sosiolog budaya, Andi Mahendra, menilai bahwa penggunaan bahasa gaul adalah bentuk identitas sosial baru. “Bahasa gaul menjadi simbol keanggotaan kelompok dan cara anak muda menegaskan eksistensi mereka di dunia digital. Ini adalah bentuk komunikasi khas yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya,” katanya.
Meskipun demikian, penting bagi masyarakat untuk menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi dan pelestarian bahasa nasional. Pemerintah dan lembaga pendidikan diimbau agar terus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menggunakan bahasa Indonesia secara tepat, tanpa mengekang kreativitas mereka dalam berbahasa.
Akhirnya, apakah bahasa gaul Gen Z dapat disebut sebagai evolusi bahasa atau degradasi linguistik, bergantung pada cara kita memandang dan mengarahkan penggunaannya. Satu hal yang pasti, bahasa akan terus berubah seiring perkembangan zaman—dan Gen Z adalah aktor utama dalam babak baru sejarah bahasa Indonesia di era digital.
betangTV SALURAN HIBURAN | INFORMASI | DAN BERITA
