KARHUTLA KALTENG : 1001 PROBLEMA DI BALIK ASAP, ALAM TERLUKA, MASYARAKAT MENANGGUNG DERITA


Musim kemarau yang melanda hampir seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Tengah kembali menghadirkan persoalan klasik yang seolah tak pernah menemukan ujung penyelesaian. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dalam kurun waktu hampir tiga bulan terakhir bukan hanya menyisakan hamparan lahan terbakar, tetapi juga menghadirkan 1001 persoalan bagi kehidupan masyarakat.

Terlepas dari apakah kebakaran tersebut terjadi akibat kesengajaan, kelalaian, maupun faktor alam, satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah dampaknya. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan, lingkungan, aktivitas ekonomi, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Persoalannya bukan semata-mata tentang berapa luas lahan yang terbakar, berapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan, atau berapa besar anggaran yang telah dikeluarkan untuk penanggulangan. Lebih dari itu, karhutla merupakan persoalan ekologis yang memiliki konsekuensi panjang terhadap keberlangsungan kehidupan manusia dan lingkungan.

Kalimantan Tengah yang sebagian wilayahnya merupakan kawasan gambut memiliki kerentanan tersendiri. Ketika gambut mengalami kekeringan dan terbakar, api tidak hanya melahap vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat ke lapisan organik di bawah tanah. Kondisi ini membuat kebakaran sulit dikendalikan dan membutuhkan waktu panjang untuk memulihkan ekosistem yang rusak.

1. Ekosistem Rusak, Gambut Kehilangan Fungsinya

Gambut sejatinya merupakan salah satu ekosistem penting yang berfungsi menyimpan karbon sekaligus mengatur tata air alami. Namun, ketika mengalami pengeringan dan kebakaran, fungsi ekologis tersebut perlahan hilang.

Pembakaran gambut melepaskan simpanan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Kerusakan lapisan gambut juga mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap serta menyimpan air, sehingga kawasan tersebut semakin rentan mengalami kekeringan dan kebakaran berulang.

Dampaknya tidak berhenti di daratan. Kualitas air dan tanah ikut terpengaruh, sementara vegetasi alami serta habitat satwa liar terancam musnah. Keanekaragaman hayati, termasuk habitat satwa endemik Kalimantan seperti orangutan, menghadapi tekanan serius.

Dengan demikian, setiap kebakaran gambut bukan sekadar kehilangan tutupan lahan, melainkan juga hilangnya fungsi penyangga kehidupan yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk dipulihkan.

2. Kabut Asap Menjadi Ancaman Kesehatan Masyarakat

Dampak yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah memburuknya kualitas udara akibat asap hasil pembakaran.

Partikel halus atau PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan tersebut berpotensi memicu gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan, batuk, hingga memperburuk penyakit pernapasan seperti asma dan ISPA.

Kelompok masyarakat yang paling rentan adalah anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta mereka yang memiliki gangguan kesehatan tertentu.

Dalam kondisi kabut asap yang semakin pekat, masyarakat harus membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai. Bahkan, kegiatan belajar-mengajar di sekolah dapat terganggu ketika kualitas udara tidak lagi aman bagi peserta didik.

Ironisnya, masyarakat yang tidak memiliki keterlibatan langsung dalam aktivitas pembakaran justru ikut menanggung risiko kesehatan yang ditimbulkan.

Udara bersih yang seharusnya menjadi hak setiap warga berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.

3. Ekonomi Tertekan, Masyarakat Kecil Menanggung Beban

Karhutla juga membawa konsekuensi ekonomi yang tidak sederhana.

Kerusakan lahan pertanian dan perkebunan dapat menghilangkan sumber penghidupan masyarakat. Aktivitas perdagangan, transportasi, jasa, serta berbagai sektor usaha lainnya ikut terganggu akibat kabut asap dan menurunnya mobilitas masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah harus mengalokasikan sumber daya yang tidak sedikit untuk pemadaman, penanganan kesehatan, distribusi bantuan, hingga pemulihan lingkungan.

Bagi masyarakat kecil, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian dan perkebunan, karhutla dapat menjadi pukulan berlapis. Lahan rusak, pendapatan berkurang, sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi.

Persoalan ini berpotensi memperbesar kerentanan ekonomi dan memperburuk kondisi sosial masyarakat.

4. Pendidikan dan Kehidupan Sosial Ikut Terganggu

Kabut asap bukan hanya mengganggu kesehatan dan perekonomian, tetapi juga mengubah rutinitas kehidupan masyarakat.

Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas pendidikan dapat terpaksa dihentikan sementara atau dialihkan ke pembelajaran dari rumah. Anak-anak kehilangan kesempatan belajar secara normal, sementara orang tua harus menyesuaikan aktivitas pekerjaan dan keluarga.

Aktivitas masyarakat di ruang terbuka, kegiatan keagamaan, olahraga, hingga pelayanan publik juga dapat mengalami hambatan.

Dengan kata lain, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan yang terjadi jauh dari permukiman. Dampaknya masuk ke rumah-rumah warga, ruang kelas, tempat kerja, dan berbagai ruang kehidupan sosial lainnya.

Karhutla Bukan Sekadar Bencana Musiman

Berulangnya karhutla di Kalimantan Tengah seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi secara menyeluruh pola penanganan dan pengelolaan lingkungan.

Penanggulangan tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas, mulai dari pengelolaan tata air gambut, pengawasan kawasan rawan kebakaran, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, penguatan kesiapsiagaan masyarakat, hingga pemulihan ekosistem yang telah rusak.

Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan harus memiliki tanggung jawab bersama. Penanganan karhutla membutuhkan kerja nyata, koordinasi lintas sektor, dan kebijakan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons ketika musim kemarau tiba.

Sebab, persoalan karhutla tidak selesai hanya karena api berhasil dipadamkan. Selama akar persoalannya belum ditangani, ancaman yang sama akan terus berulang.

Pada akhirnya, ada satu pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: sampai kapan masyarakat Kalimantan Tengah harus hidup berdampingan dengan ancaman asap setiap kali musim kemarau datang?

Jangan sampai karhutla menjadi rutinitas tahunan yang dianggap biasa, sementara kerusakan lingkungan semakin meluas dan masyarakat terus menjadi pihak yang paling banyak menanggung akibatnya.

Kalimantan Tengah tidak hanya membutuhkan keberhasilan memadamkan api, tetapi juga keseriusan menjaga hutan, menyelamatkan gambut, melindungi kesehatan masyarakat, dan memastikan generasi mendatang masih dapat menikmati udara bersih.

Sebab, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ketika gambut rusak, yang terancam bukan hanya ekosistem. Dan ketika udara tercemar, seluruh masyarakat harus membayar harga dari sebuah persoalan yang belum terselesaikan.

*Tulisan ini merupakan sebuah catatan reflektif dari seorang jurnalis televisi di Kalimantan Tengah, yang pernah menyaksikan dan mengikuti berbagai peristiwa kebakaran hutan dan lahan dari dekat. Pengalaman dalam dunia jurnalistik televisi memberikan perspektif tersendiri bahwa karhutla bukan sekadar peristiwa kebakaran yang datang dan pergi mengikuti musim kemarau. Ada persoalan lingkungan, kemanusiaan, kesehatan, ekonomi, serta tanggung jawab bersama yang selalu menyertainya.
Melalui catatan ini, penulis mencoba mengajak masyarakat untuk melihat karhutla dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan hanya tentang api yang membakar lahan dan asap yang menyelimuti permukiman, melainkan tentang dampak panjang yang harus ditanggung masyarakat serta masa depan lingkungan Kalimantan Tengah yang patut menjadi perhatian bersama.


Periksa Juga

Keterbukaan Informasi, Ruang Publik untuk Mengawal Hak dan Akuntabilitas

        Pengunjung : 1,063 Palangka Raya, Betang.tv – Keterbukaan informasi publik bukan sekadar persoalan membuka …

Tinggalkan Balasan