Buntok, Betang.tv – Ketika kemarau mulai mengeringkan bumi dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membayangi, warga Kelurahan Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, memilih meneguhkan ikhtiar dengan cara yang sarat makna: memanjatkan doa bersama.
Doa dan salawat menggema menyusuri jalan Kelurahan Bangkuang, Minggu (9/8/2026) malam. Ratusan warga dari berbagai unsur pemerintahan, tokoh agama, majelis taklim, kelompok pengajian, hingga masyarakat umum bergerak bersama dalam kegiatan Doa Bersama Keliling Kelurahan Bangkuang sebagai ikhtiar memohon perlindungan dari bencana kekeringan dan karhutla.
Kegiatan tersebut digelar Pemerintah Kecamatan Karau Kuala bersama Pemerintah Kelurahan Bangkuang dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Karau Kuala, Panitia Hari Besar Islam (PHBI), Majelis Taklim Al-Hidayah, serta kelompok pengajian se-Kelurahan Bangkuang.
Suasana religius terasa kuat sejak rombongan bergerak menyusuri wilayah kelurahan. Iring-iringan kendaraan roda empat, sepeda motor, serta warga yang berjalan kaki berpadu dalam satu lantunan. Melalui pengeras suara, salawat Burdah dan doa dikumandangkan sepanjang perjalanan.
Di depan rumah-rumah, warga yang telah menanti turut larut dalam lantunan salawat dan doa. Tidak sekadar menyaksikan, mereka ikut mengangkat tangan, mengamini doa, dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat.
Rombongan menyusuri jalan dari RT 1 hingga RT 27. Setelah berkeliling, seluruh peserta berkumpul di halaman Polsek Karau Kuala untuk melanjutkan rangkaian kegiatan dengan pembacaan Surah Yasin dan doa tolak bala.
Camat Karau Kuala, Adriansyah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama masyarakat dalam menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla yang berpotensi terjadi pada musim kemarau.
“Alhamdulillah, berkat kerja sama seluruh elemen pemerintahan, majelis taklim, dan segenap lapisan masyarakat, kegiatan ini berlangsung tertib dan lancar,” ujar Adriansyah.
Menurutnya, kegiatan tersebut diikuti jamaah dari masjid, langgar, majelis taklim, serta masyarakat umum. Ia mengapresiasi antusiasme dan kepedulian masyarakat yang secara langsung mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Atas nama Pemerintah Kecamatan Karau Kuala dan secara pribadi, Adriansyah menyampaikan rasa syukur, bangga, serta terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi, termasuk warga yang memberikan dukungan secara materiil untuk kelancaran kegiatan.
“Hal ini membuktikan kepedulian dan tanggung jawab serta gotong royong masyarakat Bangkuang dalam merawat dan menjaga alam untuk keselamatan dan kemaslahatan bersama masih terus dapat dijaga dan dipupuk dalam menghadapi permasalahan bersama,” katanya.
Bagi Adriansyah, doa bersama bukan berarti mengesampingkan langkah nyata menghadapi ancaman bencana. Sebaliknya, doa menjadi bagian dari ikhtiar manusia yang menyadari keterbatasan dirinya, sembari terus berusaha menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
“Kegiatan ini adalah sebuah ikhtiar sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan ketidakberdayaan, bersimpuh dan menengadahkan tangan memohon ampunan serta perlindungan di hadapan Allah SWT Yang Mahakuasa,” tuturnya.
Ikhtiar tersebut akan dilanjutkan dengan pelaksanaan Salat Istiska pada 14 Agustus 2026 mendatang. Rangkaian kegiatan keagamaan itu diharapkan menjadi momentum untuk semakin memperkuat kebersamaan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau dan potensi bencana yang menyertainya.
Adriansyah berharap kekhusyukan salat dan doa bersama tersebut mendapat keberkahan serta dikabulkan oleh Allah SWT.
Ia juga menekankan bahwa kekeringan dan karhutla bukan semata persoalan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh lapisan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam mencegah serta menghadapi ancaman bencana.
“Semoga kepedulian, kekompakan, dan kerja sama ini menjadi kekuatan sosial yang agamis, rukun, dan damai, serta terus dipertahankan dan ditingkatkan dalam menghadapi persoalan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” harapnya.
Semangat tersebut dirangkum dalam pesan yang menjadi bagian dari arah gerak Pemerintah Kecamatan Karau Kuala, yaitu “Bekerja Bersama, Merangkul Semua”, “Balepah Bagawi, Manggampir Sandeyah Biti”.
Di tengah ancaman kemarau dan karhutla, Bangkuang menunjukkan bahwa ikhtiar menjaga keselamatan lingkungan tidak hanya lahir dari langkah-langkah teknis, tetapi juga dari kepedulian, gotong royong, dan doa yang dipanjatkan bersama.(Red/J)
betangTV SALURAN HIBURAN | INFORMASI | DAN BERITA
