Pemadaman Bergilir, Alarm bagi Keandalan Infrastruktur Energi


Catatan Redaksi, Juli 2026

Pemadaman listrik bergilir yang kembali melanda berbagai wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bukan sekadar persoalan teknis. Di balik padamnya aliran listrik, ada aktivitas ekonomi yang terhenti, pelayanan publik yang terganggu, pelaku usaha yang merugi, hingga masyarakat yang harus berulang kali menyesuaikan kehidupan sehari-harinya.

Tidak sedikit pelaku UMKM kehilangan kesempatan berjualan. Peralatan elektronik berisiko mengalami kerusakan akibat listrik yang padam dan menyala kembali. Aktivitas belajar, bekerja, hingga pelayanan kesehatan juga tidak luput dari dampaknya. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tentu berharap lebih dari sekadar permohonan maaf.

PLN telah menyampaikan bahwa gangguan terjadi akibat kerusakan pada sejumlah unit pembangkit dan proses pemulihan masih berlangsung. Penjelasan tersebut penting sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada publik. Namun, keterbukaan saja belum cukup apabila tidak diikuti dengan kepastian mengenai jadwal pemadaman, perkembangan perbaikan, serta langkah konkret untuk meminimalkan dampak yang dirasakan pelanggan.

Kepercayaan publik dibangun melalui konsistensi. Ketika jadwal pemadaman berubah tanpa informasi yang memadai, masyarakat kesulitan mengatur aktivitasnya. Ketidakpastian justru sering kali menjadi beban yang lebih berat daripada pemadaman itu sendiri.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami bahwa gangguan pada sistem kelistrikan berskala besar tidak selalu dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Karena itu, komunikasi yang terbuka, cepat, dan akurat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan publik. Informasi yang jelas akan mengurangi keresahan sekaligus mencegah munculnya spekulasi maupun informasi yang tidak benar.

Peristiwa ini juga seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap keandalan infrastruktur kelistrikan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Wilayah yang terus berkembang dari sisi investasi, industri, dan pertumbuhan ekonomi membutuhkan sistem kelistrikan yang semakin tangguh, memiliki cadangan daya yang memadai, serta mampu mengantisipasi gangguan pada pembangkit utama.

Pada akhirnya, masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan listrik yang andal, informasi yang jujur, dan kepastian pelayanan. Sebab listrik hari ini bukan lagi sekadar penerang rumah, melainkan fondasi bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, dan kehidupan sehari-hari.

Semoga proses pemulihan dapat berlangsung secepatnya. Namun yang tidak kalah penting, peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran agar keandalan sistem kelistrikan terus diperkuat, sehingga pemadaman bergilir tidak lagi menjadi persoalan yang berulang dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan rasa aman serta kepastian.()