Palangka Raya, Betang.tv – Suasana berbeda terasa di Halaman Belakang GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, belum lama ini. Tidak ada dentuman musik ataupun gemerlap tarian. Yang terdengar justru irama kesabaran dan ketelitian para peserta saat mengolah rotan menjadi karya bernilai seni selama hampir delapan jam.
Jemari para peserta bergerak lincah menyusun helaian rotan satu demi satu. Sesekali mereka menatap pola yang mulai terbentuk, memastikan setiap anyaman tersusun rapi dan kuat.
Di tengah semarak Festival Budaya Isen Mulang 2026, keterampilan tradisional Manjawet Uwei kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat warisan budaya Dayak yang hidup dari generasi ke generasi.
Lomba Manjawet Uwei bukan sekadar kompetisi dalam rangkaian FBIM 2026 yang berlangsung pada 17–23 Mei, tetapi juga menjadi upaya nyata menjaga eksistensi kearifan lokal masyarakat Dayak di tengah arus modernisasi.
Sebanyak sembilan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah turut ambil bagian. Masing-masing membawa identitas daerah melalui motif dan pola anyaman yang ditampilkan, menghadirkan kekayaan budaya yang berbeda dalam satu ruang kebersamaan.
Koordinator lomba, Maria Doya Aden mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan budaya Dayak kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur.
“Manjawet Uwei kami hadirkan agar generasi muda mengenal budaya dan kearifan lokal masyarakat Dayak. Budaya ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari identitas daerah,” ujarnya.
Mengusung tema “Pesona Kalimantan Tengah”, lomba tahun ini memberi kebebasan bagi peserta untuk menuangkan kreativitas melalui motif khas daerah masing-masing. Panitia hanya menyediakan bahan dasar berupa uwei atau rotan, sementara bentuk dan makna karya sepenuhnya menjadi interpretasi peserta.
Di balik pola-pola anyaman yang tersusun rapi, tersimpan filosofi tentang kehidupan masyarakat Dayak. Warna hitam yang berpadu dengan warna alami rotan melambangkan kesederhanaan, keseimbangan, serta kedekatan manusia dengan alam.
Bagi masyarakat Dayak, anyaman rotan bukan hanya peralatan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekonomi. Kini, karya anyaman terus berkembang menjadi produk kreatif seperti tas, sepatu, hingga cendera mata bernilai jual tinggi.
Melalui FBIM 2026, tradisi Manjawet Uwei tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga dirawat agar tetap tumbuh bersama generasi baru. Di setiap helai rotan yang teranyam, tersimpan cerita tentang identitas, ketekunan, dan semangat menjaga budaya agar tidak hilang ditelan zaman. (Red)