Palangka Raya, Betang.tv, – Kekayaan budaya masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah kembali ditampilkan dalam ajang Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 di Palangka Raya.
Salah satu tradisi unik yang menarik perhatian pengunjung adalah Mangaruhi, tradisi menangkap ikan dengan tangan kosong yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Dayak sebagai bagian dari kearifan lokal yang ramah lingkungan.
Tradisi Mangaruhi dahulu dilakukan masyarakat di perairan dangkal, rawa, maupun kolam alami sebagai cara tradisional mencari ikan tanpa menggunakan alat tangkap yang merusak alam. Hingga kini, nilai-nilai luhur tersebut tetap dipertahankan dan dikemas menjadi cabang olahraga tradisional dalam FBIM 2026, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang memikat wisatawan lokal maupun luar daerah.
Perlombaan tradisional ini diikuti peserta dari 13 kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah yang tampil penuh semangat mewakili daerah masing-masing.
Kehadiran para peserta dari berbagai wilayah tersebut semakin menambah semarak suasana perlombaan sekaligus menjadi ajang mempererat silaturahmi dan memperkuat persatuan masyarakat melalui pelestarian budaya lokal.
Perlombaan yang digelar di kawasan GOR Indoor Jalan Tjilik Riwut ini sukses menyedot perhatian masyarakat. Sorak penonton pecah saat para peserta berusaha menangkap ikan menggunakan tangan kosong di area berlumpur dan berumput atau lumut.
Dengan penuh ketelitian, peserta meraba pergerakan ikan yang bersembunyi di sela lumpur maupun rumput dan ranting pohon, lalu menangkapnya secepat mungkin agar tidak lolos kembali ke air.

Keunikan tradisi ini tidak hanya terletak pada teknik menangkap ikan, tetapi juga pada filosofi kehidupan masyarakat Dayak yang sangat dekat dengan alam. Mangaruhi mengajarkan nilai kesabaran, ketekunan, ketelitian, serta pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.
Biasanya ikan yang dijadikan objek tangkapan dalam perlombaan Mangaruhi adalah ikan gabus berukuran sedang hingga cukup besar. Pemilihan ikan gabus dinilai tepat karena jenis ikan air tawar ini dikenal lincah, kuat, dan mampu bersembunyi di lumpur maupun sela-sela bebatuan, sehingga menambah tingkat kesulitan sekaligus keseruan perlombaan.
Bagi para peserta, menangkap ikan gabus dengan tangan kosong membutuhkan kecepatan, kepekaan, serta teknik khusus agar ikan tidak mudah lolos saat disentuh.
Selain kekompakan antar kelompok peserta, kriteria penilaian tertinggi adalah jumlah dan ukuran ikan yang berhasil ditangkap. Semakin banyak jumlah ikan yang ditangkap, dengan durasi waktu ditentukan oleh Panitia, maka kontingen inilah yang dinyatakan sebagai pemenang dalam perlombaan ini.
Atraksi tersebut pun menjadi tontonan menarik yang mengundang sorak antusias penonton, sekaligus memperlihatkan keterampilan tradisional masyarakat Dayak dalam memanfaatkan kearifan lokal secara alami dan ramah lingkungan.
Tradisi ini menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam, karena dilakukan tanpa racun maupun alat tangkap yang merusak ekosistem perairan.
Sebagai bagian dari FBIM 2026, Mangaruhi tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga sarana edukasi budaya dan promosi wisata daerah. Tradisi ini menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah memiliki kekayaan budaya lokal yang unik, autentik, dan berpotensi besar menjadi daya tarik wisata berbasis budaya dan kearifan lokal di Bumi Tambun Bungai. (Red)
betangTV SALURAN HIBURAN | INFORMASI | DAN BERITA

