Potong Pantan Warnai Pesta Perak Uskup Palangka Raya, Simbol Harmoni Iman dan Budaya Dayak Kalteng


Palangka Raya, Betang.tv – Inkulturasi budaya Dayak dalam tradisi Gereja Katolik di Kalimantan Tengah kembali tampak kuat dalam rangkaian Pesta Perak Tahbisan Episkopal 25 tahun Mgr. Dr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF di Kompleks Catholic Center Jalan D.A. Tawa, Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Sabtu (9/5/2026).

Tradisi lokal berpadu harmonis dengan perayaan iman Katolik melalui prosesi adat Dayak berupa potong pantan yang dilakukan sebelum para tamu memasuki tempat berlangsungnya Perayaan Ekaristi.

Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan, sukacita, sekaligus doa keselamatan bagi setiap tamu yang hadir.
Dalam budaya Dayak Kalimantan Tengah, pantan dimaknai sebagai halangan atau rintangan.

Karena itu, prosesi potong pantan memiliki makna filosofis sebagai upaya menyingkirkan segala hambatan, firasat buruk, maupun gangguan dalam perjalanan dan tugas seseorang.

Selain menjadi ungkapan sukacita atas kedatangan tamu kehormatan, upacara adat ini juga mengandung doa agar setiap tamu selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dianugerahi kesehatan, umur panjang, rezeki, serta keberhasilan dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya.

Prosesi adat dipimpin oleh tokoh adat atau mantir yang didampingi sejumlah pembantu adat. Para tamu kemudian dipersilakan berdiri di hadapan pantan sebelum simbol penghalang tersebut dipotong menggunakan mandau sebagai tanda dibukanya jalan dan penerimaan penuh persaudaraan.

Dalam rangkaian pesta perak tersebut, para tamu undangan yang terdiri dari para Uskup, Pastor, Suster, tokoh masyarakat, hingga tamu kehormatan lainnya disambut terlebih dahulu dengan tarian khas Dayak Kalimantan Tengah sebelum menjalani prosesi potong pantan.

Momen menarik terjadi saat Mgr. Dr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF turut melakukan prosesi potong pantan. Meski telah berusia 72 tahun, tenaga dan semangat Uskup Palangka Raya itu masih terlihat prima. Dengan menggunakan mandau, ia berhasil menebas dua batang tebu hanya dalam dua kali ayunan.

Aksi tersebut langsung mendapat sambutan antusias dari para pelajar Katolik dan umat yang hadir dalam misa bersama pelajar se-Palangka Raya, yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan 25 tahun tahbisan episkopal Uskup Aloysius.

Perpaduan antara tradisi adat Dayak dan liturgi Gereja Katolik dalam perayaan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa budaya lokal dapat hidup berdampingan dengan iman, tanpa kehilangan nilai dan identitas aslinya. (Red)


Periksa Juga

Hadiri Pesta Perak Episkopal, Anggota DPR RI Sigit K Yunianto Apresiasi 25 Tahun Pengabdian Uskup Palangkaraya

        Pengunjung : 162 Foto ; Sigit K. Yunianto, Anggota Komisi XII DPR RI Palangka …

Tinggalkan Balasan