Oleh: Jhon Kenedy, Ketua Bidang Penulis DPW IPJI Kalimantan Tengah
Tidak perlu menjadi ahli kesehatan untuk menilai kualitas sebuah fasilitas kesehatan. Masyarakat cukup melihat halaman depannya, ruang tunggunya, kamar mandinya, atau sudut-sudut bangunannya yang jarang tersentuh perhatian.
Dari situ, publik sudah bisa menarik kesimpulan. Sebab sesungguhnya, kebersihan adalah wajah pertama pelayanan. Bahkan sebelum pasien bertemu dokter, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya, yang lebih dulu berbicara adalah kondisi lingkungan tempat ia datang mencari kesembuhan.
Maka menjadi ironi ketika masih ditemukan fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, pustu, polindes, maupun layanan kesehatan di desa, yang tampak kurang terawat. Rumput liar tumbuh tanpa kendali, sampah terlihat di beberapa sudut, cat bangunan kusam, toilet tak nyaman digunakan, dan lingkungan yang jauh dari kesan sehat.
Pertanyaannya sederhana, bagaimana masyarakat diminta percaya pada pelayanan kesehatan jika kebersihan fasilitasnya sendiri tidak menjadi prioritas?
Kita sering mendengar jargon pelayanan prima, transformasi kesehatan, peningkatan kualitas layanan, hingga komitmen melayani sepenuh hati. Semua itu terdengar baik dalam laporan, sambutan, dan spanduk-spanduk resmi.
Namun seluruh slogan tersebut kehilangan makna ketika masyarakat masih disambut oleh lingkungan yang tidak mencerminkan standar kesehatan.
Jangan salah. Persoalan ini bukan semata soal estetika.
Kebersihan adalah bentuk penghormatan terhadap pasien. Ketika lingkungan fasilitas kesehatan tampak kotor dan tidak terawat, masyarakat menangkap pesan bahwa ada sesuatu yang tidak sedang dikelola dengan sungguh-sungguh. Jika urusan yang terlihat oleh mata saja terabaikan, publik tentu berhak bertanya tentang hal-hal lain yang tidak terlihat.
Inilah yang sering luput dipahami. Kepercayaan masyarakat tidak dibangun dari pidato-pidato panjang atau laporan yang penuh angka. Kepercayaan tumbuh dari pengalaman nyata. Dari kesan pertama saat mereka datang. Dari keyakinan bahwa tempat yang mereka datangi benar-benar dikelola oleh orang-orang yang peduli.
Lebih menyedihkan lagi, banyak fasilitas kesehatan di tingkat desa dan kecamatan merupakan wajah terdepan pelayanan pemerintah. Di sanalah masyarakat kecil menggantungkan harapan. Di sanalah warga yang jauh dari pusat kota mencari pertolongan pertama ketika sakit.
Namun jika fasilitas yang menjadi garda terdepan itu justru terlihat kumuh dan kurang terawat, maka yang sedang dipertontonkan bukan hanya lemahnya budaya kebersihan. Yang terlihat adalah kegagalan menjaga standar pelayanan publik paling mendasar.
Tidak ada alasan untuk menganggap persoalan ini sepele. Sebab kebersihan bukan perkara anggaran besar. Ia lebih banyak berbicara tentang kepedulian, pengawasan, dan kemauan untuk menjaga apa yang sudah dimiliki. Bangunan boleh megah, alat kesehatan boleh canggih, tetapi ketika lingkungan fasilitas kesehatan tidak mampu menghadirkan rasa nyaman dan keyakinan, maka sebagian makna pelayanan telah hilang.
Sudah waktunya para pengelola fasilitas kesehatan berhenti menganggap kebersihan sebagai urusan pelengkap. Kebersihan adalah indikator keseriusan. Ia menunjukkan apakah sebuah institusi bekerja dengan hati atau sekadar menjalankan rutinitas administratif. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan slogan bahwa pelayanan kesehatan sudah semakin baik.
Masyarakat ingin melihat buktinya. Dan bukti yang paling mudah terlihat adalah satu hal sederhana, apakah fasilitas kesehatan yang mereka datangi benar-benar mencerminkan hidup sehat, atau justru menjadi contoh bagaimana standar itu diabaikan.
Jika kebersihan saja belum mampu dijaga, maka jangan heran bila kepercayaan publik ikut perlahan memudar. Sebab pelayanan kesehatan yang bermartabat selalu dimulai dari hal yang paling dasar, yakni memberi teladan, bukan sekadar memberi layanan.()
betangTV SALURAN HIBURAN | INFORMASI | DAN BERITA