Palangka Raya, Betang.tv – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat di sejumlah wilayah Pulau Kalimantan, khususnya Suku Banjar dan Suku Bakumpai, masih memelihara berbagai tradisi yang sarat nilai kehidupan. Salah satunya adalah “mambarakat” atau membawa barakat, yakni tradisi membawa pulang bingkisan makanan setelah menghadiri acara syukuran, selamatan, tahlilan, hajatan, maupun kegiatan adat.
Sekilas, tradisi ini tampak sebagai kebiasaan membawa pulang nasi, lauk-pauk, atau kue. Namun, bagi masyarakat yang mewarisinya secara turun-temurun, mambarakat memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Tradisi ini menjadi simbol berbagi rezeki, mempererat tali silaturahmi, sekaligus menyebarkan keberkahan kepada lebih banyak orang.
Dalam pelaksanaannya, tuan rumah dengan penuh keikhlasan membagikan makanan kepada warga yang membantu penyelenggaraan acara maupun kepada para tamu (undangan/saruanan) yang hadir. Tidak sedikit bingkisan tersebut kemudian dinikmati bersama anggota keluarga di rumah yang tidak sempat menghadiri kegiatan. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh nilai kepedulian, kebersamaan, dan rasa saling memiliki di tengah kehidupan bermasyarakat.
Bagi masyarakat Banjar dan Bakumpai, keberkahan tidak diukur dari seberapa banyak makanan yang dibawa pulang, melainkan dari keikhlasan orang yang memberi serta rasa syukur orang yang menerima. Nilai tersebut selaras dengan ajaran Islam yang mengajarkan pentingnya sedekah, memuliakan tamu, menjaga silaturahmi, dan saling berbagi sebagai bagian dari amal kebajikan.
Karena itu, mambarakat tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan mengambil makanan sesuka hati. Membawa pulang hidangan tanpa sepengetahuan atau tanpa kerelaan tuan rumah bukanlah bagian dari tradisi tersebut. Hakikat mambarakat bertumpu pada prinsip rida sama rida, ada keikhlasan dari pihak yang memberi dan adab serta rasa syukur dari pihak yang menerima. Tanpa nilai itu, tradisi kehilangan makna yang sesungguhnya.
Lebih dari sekadar membagikan makanan, mambarakat menyimpan pesan moral yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Tradisi ini mengajarkan bahwa berbagi akan melahirkan keberkahan jika dilakukan dengan tulus, tamu harus dimuliakan sebagai bentuk penghormatan, makanan hendaknya dimanfaatkan agar tidak terbuang sia-sia, serta setiap orang wajib menjaga kejujuran dan adab dalam setiap tindakan.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga sarana membangun karakter dan memperkuat ikatan sosial. Mambarakat mengajarkan bahwa keberkahan bukan terletak pada apa yang dibawa pulang, tetapi pada ketulusan hati untuk berbagi, menghormati hak orang lain, dan menjaga etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya Kalimantan tidak hanya mewariskan kebiasaan, tetapi juga mewariskan nilai. Selama semangat keikhlasan, gotong royong, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama tetap dijaga, mambarakat akan terus hidup sebagai simbol keberkahan yang menguatkan persaudaraan serta menjadi teladan bagi generasi yang akan datang.(Red)
betangTV SALURAN HIBURAN | INFORMASI | DAN BERITA
