Waspada Musim Hujan, Demam Berdarah Dengue Mengancam

  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Waspada Musim Hujan, Demam Berdarah Dengue Mengancam

 

Oleh

Dr. Marselinus Heriteluna, S.Kp, MA

 mheriteluna@yahoo.com*)

 

Demam berdarah dengue Kembali mengancam, ada banyak kawan-kawan dan kenalan yang menjadi orang tua anak-anak sekolah di WAG sekolah, meminta ijin dan menyampaikan anaknya sakit, dan di rawat di Rumah Sakit dengan diagnose DBD. Penyakit ini merupakan kondisi “rutin” terjadi setiap tahun. Salah satu yang perlu kita ketahui bahwa muasim hujanlah yang menjadi kondisi terjadinya DBD. Curah hujan yang cukup tinggi di bulan Maret 2023 ini menurut Data Prakiraan Cuaca yang disampaikan oleh BMKG Kalimantan Tengah Prakiraan Curah Hujan Bulan April 2023 diprakirakan curah hujan di wilayah Kalimantan Tengah secara umum berada pada kriteria menengah (200 s.d. 300 mm). Sementara itu, kriteria tinggi (300 s.d. 400 mm) diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah: Kabupaten Murung Raya bagian timur, Kabupaten Gunung Mas; sebagian wilayah : Kabupaten Barito Utara bagian utara, Kabupaten Kapuas bagian utara; sebagian kecil wilayah: Kota Palangka Raya bagian utara, Kabupaten Katingan bagian timur, perbatasan bagian selatan Kabupaten Katingan dengan Kabupaten Pulang Pisau.

Pada musim hujan, populasi nyamuk Aedes Aegypti meningkat karena telur yang belum menetas menetas lingkungan sarangnya tergenang air hujan. Kondisi ini meningkatkan jumlah nyamuk sehingga dapat meningkatkan penyebaran demam berdarah dengue. Habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut : Tangki Air (TPA) untuk kebutuhan sehari-hari seperti gentong, tabung, bak/toilet dan ember. Wadah air yang tidak digunakan sehari-hari, misalnya: tempat minum burung, vas bunga, sarang semut, saluran air, saluran pembuangan kulkas/radiator, selokan mampet, benda-benda bekas (misalnya: ban, kaleng, botol). Reservoir alami seperti lubang pohon, lubang batu, inti daun, tempurung kelapa, daun pisang dan  tempurung coklat/karet.  Nyamuk Aedes aegypti adalah spesies nyamuk yang membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Menariknya, hanya nyamuk Aedes aegypti betina yang menularkan virus, sedangkan jantan tidak. Selain virus dengue, nyamuk Aedes aegypti juga bisa membawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning.

Nyamuk Aedes Aegypti biasanya bermula pada pagi dan sore hari, dengan 2 puncak aktivitas antara pukul 09:00-10:00 dan 16:00-17:00. Aedes aegypti cenderung menghisap darah beberapa kali dalam satu siklus gonotrop untuk mengisi perutnya dengan darah. Sebab, nyamuk ini sangat efektif sebagai pembawa penyakit. Setelah menghisap darah, nyamuk beristirahat di tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, di dekat tempat bersarangnya. Di tempat inilah nyamuk menunggu proses pematangan telur. Setelah hibernasi dan pematangan telur, nyamuk betina bertelur di permukaan air, setelah itu telur bergerak ke samping dan menempel di dinding tempat berkembang biaknya. Telur biasanya menetas menjadi jentik atau larva dalam waktu ± 2 hari. Setiap kali nyamuk betina bertelur, ia dapat menghasilkan ± 100 butir telur. Di tempat yang kering (tanpa air) telur dapat bertahan ± 6 bulan, jika tempat tersebut terendam air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, di tahun 2022, jumlah kasus dengue mencapai 131.265 kasus yang mana sekitar 40% adalah anak-anak usia 0-14 tahun. Sementara, jumlah kematiannya mencapai 1.135 kasus dengan 73% terjadi pada anak usia 0-14 tahun. Tanda-tanda DBD dapat berupa demam tinggi mendadak berketerusan, nyeri atau pegal-pegal pada otot dan sendi, nyeri di belakang mata, serta wajah memerah dan muncul bintik-bintik di kulit. Lebih lanjut, pada anak, tanda-tanda DBD juga dapat berupa kondisi lemah, mual-mual dan muntah, serta pegal-pegal. Spektrum DBD dimulai dari yang ringan tanpa gelaja, kemudian DBD dengan gejala demam, sampai dengan yang dinamakan dengue shock syndrome (DSS) dan dapat menyebabkan kematian.

Upaya mengatasi DBD masih berpola Gerakan 3 M Plus. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus merupakan salah satu upaya dalam pencegahan DBD  yang dilakukan dengan 3 cara yaitu : Secara fisik melakukan 3 M (Menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin, Menutup rapat semua tempat penyimpanan air, Memanfaatkan limbah barang bekas yang berilai ekonomis (daur ulang)), secara biologi dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk pada penampungan air, menanam tanaman pengusir nyamuk dan secara kimiawi dengan menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, serta menggunakan insektisida pada nyamuk dewasa.

 

*) Praktisi Pendidikan Kesehatan


  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Periksa Juga

Saat Ini, Generasi Muda Tak Lepas dari Perkembangan Teknologi Digital

        Pengunjung : 494   Palangka Raya, Betang.Tv – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan …