Akademisi Nilai Uskup Aloysius Sosok Tenang, Rendah Hati, dan Tak Pernah Gunakan Mimbar untuk Politik


Palangka Raya, Betang.tv, – Di tengah dinamika sosial, politik, dan kehidupan keagamaan yang terus berubah, sosok Mgr DR. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF dinilai tetap konsisten menghadirkan keteduhan selama 25 tahun memimpin umat Katolik di Kalimantan Tengah.

Penilaian tersebut disampaikan sejumlah akademisi Kalimantan Tengah dalam Talkshow Kreatif bertajuk “Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan”, yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Perak Tahbisan Uskup Palangka Raya.

Akademisi Universitas Palangka Raya, Prof Petrus Poerwadi, menilai Mgr Aloysius merupakan figur pemimpin yang tenang dan tidak mudah terpancing dalam menghadapi berbagai persoalan, baik di internal gereja maupun kehidupan masyarakat secara luas.

“Mgr Aloysius tentu banyak tahu persoalan yang sedang terjadi, bukan hanya tentang umat dan gereja Katolik, tetapi juga daerah ini. Walau begitu, beliau tidak akan berkomentar jika memang tidak diminta. Beliau tetap tenang,” ujarnya di Palangka Raya, Jumat (8/5/2026)

Menurut Prof Petrus, ketenangan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama kepemimpinan Mgr Aloysius selama menggembalakan umat Katolik di Kalimantan Tengah. Ia menyebut Uskup Palangka Raya itu dikenal sebagai pendengar yang baik dan selalu mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan.

“Saya melihat ketenangan dan sikap sebagai pendengar yang baik itu membuat Mgr Aloysius tidak mudah terprovokasi. Kami tidak pernah mendengar beliau membuat pernyataan kontroversial atau memicu perdebatan, baik di kalangan umat Katolik maupun umat lainnya,” katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan akademisi sekaligus Dosen Pascasarjana Universitas Palangka Raya, Dr F.X. Manesa. Ia menggambarkan Mgr Aloysius sebagai pribadi low profile namun memiliki kualitas kepemimpinan dan intelektualitas yang tinggi.

Menurut Manesa, kesederhanaan menjadi karakter kuat yang melekat dalam diri Mgr Aloysius. Meski memiliki banyak pengalaman, prestasi, dan pengaruh, Uskup Palangka Raya tersebut tidak pernah menonjolkan diri di hadapan publik.

“Padahal intelektual dan prestasi Mgr Aloysius sangat banyak, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional. Namun itu tidak pernah beliau tunjukkan,” kata Manesa.

Hal lain yang paling ia apresiasi adalah konsistensi Mgr Aloysius menjaga posisi gereja tetap netral dan menjadi penyejuk di tengah dinamika politik daerah.

“Sekalipun beliau pemimpin tertinggi umat Katolik di Kalteng dan sangat didengar umat, tidak pernah sekalipun itu dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. Saya tidak pernah mendengar beliau secara terbuka mendukung calon tertentu. Beliau tetap pada porsinya sebagai imam dan penyejuk,” tegasnya.

Kesaksian para akademisi tersebut menambah warna dalam rangkaian refleksi 25 tahun tahbisan episkopal Mgr Aloysius. Sosoknya tidak hanya dikenang sebagai pemimpin gereja, tetapi juga figur yang menghadirkan keteduhan, kebijaksanaan, dan persaudaraan lintas kalangan di Kalimantan Tengah.

Sementara itu, Mgr Aloysius mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat dan umat Katolik dalam menyambut Pesta Perak tahbisannya yang diisi berbagai kegiatan sosial, rohani, dan dialog kebangsaan.

“Saya sendiri tidak membayangkan akan dirayakan sampai seperti ini. Secara spontan patut kita syukuri, karena apa yang kita alami lebih dari yang kita harapkan,” tuturnya. (Red)


Periksa Juga

Sekretaris Dubes Vatikan Hadiri Pesta Perak Episkopal Uskup Palangkaraya

        Pengunjung : 163 Foto : Mgr. Michael Andrew Pawlowicz, Sekretaris Dubes Vatikan untuk Indonesia …

Tinggalkan Balasan