Gereja yang Hidup di Tanah Dayak, Jejak Panjang Keuskupan Palangka Raya


Palangka Raya, Betang.tv, –  Keuskupan Palangka Raya menjadi salah satu tonggak penting perkembangan Gereja Katolik di Pulau Kalimantan. Keuskupan ini resmi berdiri pada 5 April 1993 setelah dimekarkan dari Keuskupan Banjarmasin melalui keputusan Tahta Suci Vatikan.

Wilayah pelayanannya mencakup seluruh Provinsi Kalimantan Tengah dan kini menjadi bagian dari Provinsi Gerejani Keuskupan Agung Samarinda.

Sejarah Gereja Katolik di Kalimantan Tengah sebenarnya telah dimulai jauh sebelum keuskupan ini berdiri. Pelayanan misi awal dilakukan oleh para misionaris dari Keuskupan Banjarmasin.

Pada tahun 1952, Sampit ditetapkan sebagai stasi sentral misi Katolik di wilayah Kalimantan Tengah. Seiring bertambahnya jumlah umat dan kebutuhan pelayanan pastoral, Paroki Palangka Raya resmi dibentuk pada tahun 1963 atas dukungan Gubernur pertama Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut.

Perjalanan menuju berdirinya Keuskupan Palangka Raya dimulai ketika Mgr. F.X. Prajasuta, MSF mengajukan permohonan pemekaran wilayah gerejani kepada Tahta Suci pada 14 November 1992. Permohonan tersebut kemudian dikabulkan pada 5 April 1993 dan menjadi tonggak lahirnya Keuskupan Palangka Raya.

Uskup pertama yang memimpin keuskupan ini adalah Mgr. Yulius Aloysius Husin, MSF yang ditahbiskan pada 17 Oktober 1993. Kepemimpinannya berlangsung hingga beliau wafat pada 13 Oktober 1994. Setelah mengalami masa sede vacante, tongkat estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF yang ditahbiskan sebagai uskup pada 7 Mei 2001 dan hingga kini terus memimpin perkembangan Gereja Katolik di Kalimantan Tengah.

Foto ; Mgr. Yulius Aloysius Husin, MSF ,  Uskup Pertama Keuskupan Palangka Raya

Dalam perjalanan sejarahnya, Keuskupan Palangka Raya juga mengalami perubahan struktur gerejani. Awalnya berada di bawah metropolitan Keuskupan Agung Pontianak, sebelum kemudian berpindah menjadi bagian dari Keuskupan Agung Samarinda pada 29 Januari 2003.

Tidak hanya berkembang dalam struktur organisasi gereja, Keuskupan Palangka Raya juga dikenal aktif membangun semangat inkulturasi dan dialog dengan budaya lokal Dayak. Pendekatan pastoral yang menghargai adat dan budaya setempat menjadi ciri khas pelayanan gereja di wilayah ini.

Berbagai perayaan liturgi maupun kegiatan pastoral sering memadukan unsur budaya Dayak sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas masyarakat Kalimantan Tengah.

Dalam bidang sosial dan kemanusiaan, keuskupan turut berperan aktif dalam pelayanan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi umat hingga advokasi lingkungan hidup. Kepedulian terhadap isu ekologis semakin ditegaskan setelah penyelenggaraan Sinode I Keuskupan Palangka Raya pada 22 Mei 2018. Dari sinode tersebut lahirlah visi besar “Gereja Palangka Raya yang Mandiri, Misioner dan Peduli Lingkungan Hidup” yang hingga kini menjadi arah dasar pelayanan pastoral.

Dalam struktur pelayanan pastoral, jabatan Vikaris Jenderal diemban oleh P. Leo Kurniawan, MSF sejak 1 Juli 2010, sedangkan Sekretaris Keuskupan dipercayakan kepada P. I Ketut A. Hardana, MSF sejak 1 September 2009.

Berdasarkan data statistik pastoral pada awal perkembangan keuskupan, tahun 2012 tercatat terdapat 22 paroki, 532 stasi, 22 gereja induk, serta 304 kapel yang tersebar hingga pelosok Kalimantan Tengah. Jumlah umat saat itu mencapai 74.003 jiwa dengan dukungan tenaga pastoral sebanyak 447 orang.

Namun setelah lebih dari 25 tahun berlalu, perkembangan Keuskupan Palangka Raya dinilai sangat signifikan. Kini jumlah paroki bertambah menjadi 38 paroki dengan total 104 pastor (sebagian besar adalah Imam Projo) yang melayani umat di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.

Foto ; Mgr. Dr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF, Uskup Palangka Raya

“Dari 38 paroki, sebanyak 29 sudah berstatus paroki mandiri. Ini yang patut kita syukuri,” ungkap Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF disambut tepuk tangan umat.

Menurutnya, peningkatan jumlah imam tidak terlepas dari peran Seminari Menengah Raja Damai yang selama ini menjadi tempat pembinaan generasi muda calon pastor di Kalimantan Tengah. Kehadiran seminari tersebut dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menyiapkan kader-kader imam lokal untuk melayani gereja di masa depan.
Selain perkembangan di bidang pastoral,

Keuskupan Palangka Raya juga mencatat kemajuan dalam pelayanan sosial dan kesehatan. Saat ini, keuskupan telah memiliki RS Katolik Betang Pambelum bertipe C sebagai wujud pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas tanpa membedakan latar belakang agama maupun suku.

Keuskupan juga membangun Catholic Center Palangka Raya di Jalan D.A. Tawa sebagai pusat pelayanan pastoral umat Katolik. Di kawasan tersebut kini berdiri berbagai fasilitas pendukung kegiatan keagamaan, pembinaan umat, hingga pusat kegiatan sosial gereja.

“Itu semua merupakan karya Roh Kudus,” tutur Uskup.

Meski demikian, tantangan pelayanan tetap tidak ringan. Dengan wilayah pelayanan yang luasnya mencapai sekitar 1,5 kali Pulau Jawa, banyak stasi umat hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai, jalan tanah, bahkan lintas hutan. Para pastor, suster dan tenaga pastoral kerap menempuh perjalanan panjang menggunakan kendaraan roda dua maupun perahu motor demi melayani umat di pedalaman.

Selain tarekat Missionarii a Sacra Familia (MSF) yang sejak awal berperan besar dalam pelayanan pastoral di Kalimantan Tengah, kehadiran para imam dari Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah juga turut memperkuat karya misi Gereja Katolik di wilayah in khususnya di Paroki Santa Maria (kala itu). SVD dikenal sebagai tarekat misionaris pria terbesar kelima dalam Gereja Katolik yang didirikan oleh Santo Arnold Janssen pada tahun 1875 di Steyl, Belanda.

Serikat Sabda Allah (SVD) (Societas Verbi Divini) berkarya aktif di Kalimantan Tengah di bawah naungan Keuskupan Palangka Raya, dengan fokus pelayanan pastoral paroki, terutama di daerah pedalaman dan kawasan mayoritas  perkebunan.

Para misionaris SVD, yang sering disebut sebagai Verbites, berperan penting dalam pelayanan di paroki-paroki seperti Paroki Santo Arnoldus Janssen Kuala Kurun dan Paroki Santo Yohanes Paulus II Pangkalan Banteng.

Seiring momentum Pesta Perak 25 Tahun Tahbisan Episkopal Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF, Keuskupan Palangka Raya terus menunjukkan perkembangan yang signifikan, tidak hanya dalam jumlah umat dan infrastruktur gereja, tetapi juga dalam semangat pelayanan yang misioner, terbuka, inklusif serta peduli terhadap lingkungan hidup dan masyarakat Kalimantan Tengah.

*sumber Komsos Keuskupan Palangka Raya


Periksa Juga

Pemuda Katolik Kalteng Apresiasi Pesta Perak Episkopal Uskup Palangka Raya

        Pengunjung : 152 Foto : Dorothea S. Jadi, Ketua Komda Pemuda Katolik Kalimantan Tengah …

Tinggalkan Balasan