Saat Tradisi menjadi Penjaga Jati Diri, Manyanggar Adat Hidupkan Semangat Desa Janggi


Buntok, Betang.tv – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Janggi, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, kembali meneguhkan jati diri melalui tradisi Manyanggar Adat, sebuah ritual sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai wujud syukur, penghormatan kepada leluhur, serta doa untuk keselamatan dan kemajuan kampung halaman.

Tradisi yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Bakumpai itu digelar selama tiga hari, mulai 14 hingga 16 Juli 2026. Berbagai rangkaian kegiatan mewarnai pelaksanaannya, mulai dari ritual adat, doa bersama, pertunjukan seni budaya, hingga kebersamaan yang melibatkan tokoh adat, pemerintah desa, dan seluruh lapisan masyarakat.

Pelaksanaan Manyanggar tahun ini memiliki makna yang lebih istimewa karena bertepatan dengan peringatan 52 tahun Desa Janggi sebagai desa definitif. Jauh sebelum itu, wilayah tersebut telah dikenal sebagai Dusun Janggi yang berada dalam administrasi Desa Babai sejak 1937. Artinya, perjalanan sejarah Dusun Janggi kini telah memasuki usia 89 tahun, menjadi saksi panjang tumbuhnya kehidupan masyarakat yang tetap berpegang pada nilai-nilai adat.

Kepala Desa Janggi, Fatli, mengatakan bahwa penyelenggaraan Manyanggar merupakan bentuk komitmen pemerintah desa bersama masyarakat dalam menjaga identitas budaya yang diwariskan para leluhur.

“Adat dan budaya adalah kekayaan yang harus terus kita pelihara. Melalui Manyanggar, kami ingin memastikan warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Menurut Fatli, Manyanggar bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan simbol tanggung jawab bersama dalam membina, melestarikan, dan menjaga budaya Bakumpai agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Nilai-nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta kebersamaan yang terkandung di dalamnya diharapkan terus diwariskan kepada generasi penerus sehingga tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Desa Janggi, Aspul Anuar, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat persatuan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan adat dan budaya Bakumpai sebagai warisan yang memiliki nilai luhur.

“Manyanggar bukan sekadar upacara adat, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan masyarakat serta mengingatkan pentingnya menjaga dan menghormati nilai-nilai adat yang telah diwariskan secara turun-temurun,” katanya.

Melalui peringatan tersebut, Pemerintah Desa Janggi bersama Dewan Adat Dayak berharap tradisi Manyanggar terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tidak hanya sebagai agenda budaya, tetapi juga sebagai penguat identitas daerah yang mampu menjembatani nilai-nilai leluhur dengan semangat membangun desa yang maju tanpa meninggalkan akar budaya.

Perayaan 52 tahun Desa Janggi dan 89 tahun Dusun Janggi pun menjadi pengingat bahwa kemajuan pembangunan akan semakin bermakna apabila berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan budaya, sehingga nilai-nilai luhur masyarakat Bakumpai tetap hidup dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.(Red/J)


Periksa Juga

Manyipet Membidik Prestasi di FBIM 2026, Warisan Dayak yang Tetap Membara

        Pengunjung : 363 Palangka Raya, Betang.tv, – Dentingan semangat budaya dan ketepatan membidik sasaran …

Tinggalkan Balasan