Buntok, Betang.tv – Upaya menekan angka stunting tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan yang bersifat pasif. Berangkat dari semangat tersebut, Puskesmas Babai, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, menghadirkan terobosan melalui pembentukan TIM IPS (Intelijen Pencegahan Stunting), sebuah inovasi yang mengedepankan deteksi dini, respons cepat, dan pendampingan berkelanjutan bagi anak-anak yang berisiko mengalami stunting.
Inovasi ini menjadi bagian dari penguatan strategi percepatan penanganan stunting dengan mengubah pola layanan dari menunggu menjadi menjemput. Melalui TIM IPS, tenaga kesehatan secara aktif turun ke lapangan untuk mengidentifikasi kelompok rentan, memantau tumbuh kembang anak, sekaligus memastikan setiap persoalan yang ditemukan segera ditindaklanjuti secara terintegrasi.
Fokus kerja tim tidak hanya menyasar balita yang mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga anak berisiko stunting, ibu hamil, hingga keluarga yang membutuhkan pendampingan dalam pemenuhan gizi dan kesehatan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mencegah stunting sejak fase paling awal sebelum dampaknya berkembang lebih jauh.
Pelaksanaan program didukung sistem pemetaan berbasis data. Informasi diperoleh dari kegiatan Posyandu, hasil pengukuran pertumbuhan balita, kunjungan rumah, laporan kader kesehatan, pemeriksaan medis, hingga masukan masyarakat. Seluruh data kemudian dianalisis untuk menentukan sasaran prioritas yang memerlukan intervensi secara cepat dan tepat.
Kepala Puskesmas Babai, Achmad Ismail, mengatakan pembentukan TIM IPS merupakan wujud komitmen pihaknya dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih adaptif terhadap persoalan stunting di masyarakat.
“Melalui inovasi ini, setiap anak yang teridentifikasi mengalami gangguan pertumbuhan atau berisiko mengalami stunting dapat segera memperoleh tindak lanjut sesuai kebutuhannya. Intervensi dilakukan secara terpadu melalui edukasi kepada orang tua, pemantauan asupan gizi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, pemberian intervensi sesuai program, serta rujukan apabila ditemukan masalah kesehatan yang memerlukan penanganan lebih lanjut,” ujarnya, Senin (8/7/2024).
Menurut Achmad, TIM IPS tidak sekadar menjalankan fungsi pemantauan, tetapi juga menjadi sistem peringatan dini (early warning system) dalam mendeteksi potensi stunting sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi anak semakin memburuk.
Keberhasilan inovasi tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah desa, kader Posyandu, Tim Pendamping Keluarga (TPK), PKK, tokoh masyarakat, hingga keluarga sasaran. Sinergi itu dinilai menjadi kunci untuk memastikan setiap anak memperoleh pemantauan dan pendampingan secara berkesinambungan.
Dengan pendekatan yang lebih proaktif, responsif, dan berbasis data, setiap temuan di lapangan diharapkan dapat segera ditindaklanjuti sehingga risiko gangguan pertumbuhan anak dapat ditekan sedini mungkin.
Mengusung semangat “Menemukan Lebih Awal, Menangani Lebih Cepat, dan Mendampingi Sampai Tuntas,” TIM IPS diharapkan menjadi model inovasi pelayanan kesehatan yang mampu memperkuat percepatan penurunan stunting di wilayah kerja Puskesmas Babai.
Lebih dari sekadar program, pembentukan TIM IPS mencerminkan komitmen Puskesmas Babai dalam menghadirkan layanan kesehatan yang hadir di tengah masyarakat. Dengan memadukan deteksi dini, pemanfaatan data, serta pendampingan keluarga secara berkelanjutan, upaya tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi yang tumbuh sehat, berkembang optimal, dan terbebas dari stunting.(Red/J)
betangTV SALURAN HIBURAN | INFORMASI | DAN BERITA
