Festival Sastra jadi Momentum Menghidupkan Kembali Warisan Lisan dan Manuskrip Dayak Kalteng


Palangka Raya, Betang.tv – Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya menjaga jejak peradaban masa lalu menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama. Tradisi lisan dan manuskrip masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dinilai perlu terus diperkuat agar tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi tetap hidup, berkembang, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda.

Penguatan tersebut membutuhkan langkah berkelanjutan melalui pendokumentasian, pengembangan seni budaya, ruang ekspresi masyarakat, hingga dukungan regulasi pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan.

Ketua Umum Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, mengatakan Kalimantan Tengah dipilih sebagai lokasi Festival Sastra dan Sarasehan Budaya karena memiliki kekayaan budaya yang besar, khususnya berupa manuskrip dan tradisi lisan yang memiliki nilai sejarah, sosial, serta kearifan lokal.

Menurutnya, kekayaan budaya tersebut perlu terus digali dan dihidupkan kembali agar tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, melainkan menjadi bagian dari identitas masyarakat yang terus berkembang.

“Ini juga salah satu yang perlu dikembangkan karena banyak di Kalimantan Tengah, khususnya Palangka Raya, manuskrip dan tradisi lisan yang perlu dihidupkan kembali,” ujar Novi usai Festival Sastra dan Sarasehan Budaya di Ballroom Gedung Pusat Pengembangan Ilmu dan Inovasi (PPIIG) Universitas Palangka Raya, Rabu (15/7/2026).

Ia menjelaskan, pelestarian tradisi lisan dan manuskrip sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan tradisi lisan dan manuskrip sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan.

Melalui regulasi tersebut, negara mendorong adanya upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan kebudayaan agar warisan leluhur tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Novi menegaskan, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan secara parsial maupun hanya melalui kegiatan seremonial. Dibutuhkan kesinambungan program dengan melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas budaya, seniman, serta masyarakat.

“Ini juga terus-menerus dilanjutkan. Regulasi dari pemerintah setempat juga menjadi salah satu ujung tombak untuk menghidupkan dan mewariskan tradisi lisan dan manuskrip yang ada di Kalimantan Tengah, khususnya Palangka Raya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut Festival Sastra menjadi salah satu wadah strategis untuk membuka kembali ruang perjumpaan antara karya sastra, budaya lokal, dan generasi muda. Melalui diskusi, pertunjukan seni, serta berbagai aktivitas kebudayaan, masyarakat diajak mengenal kembali kekayaan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Kalimantan Tengah.

Menurutnya, keberadaan manuskrip dan tradisi lisan bukan sekadar peninggalan budaya, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kehidupan, filosofi, dan kearifan lokal yang relevan untuk menjawab tantangan zaman.

Dengan penguatan dokumentasi dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, warisan budaya Dayak diharapkan tidak hanya bertahan sebagai simbol identitas, tetapi mampu menjadi sumber pengetahuan dan kebanggaan bagi generasi masa kini maupun masa depan.(Red)


Periksa Juga

Dekranasda Kalteng Gelar Wastra Festival, Angkat Keindahan Budaya dan UMKM Lokal

        Pengunjung : 269 Palangka Raya, Betang.tv – Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-69 Provinsi …

Tinggalkan Balasan