Manyanggar Adat Desa Janggi, Warisan Leluhur yang Menyatukan Generasi dan Menjaga Jati Diri Dayak


Buntok, Betang.tv – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Janggi, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, masih setia menjaga denyut warisan leluhur. Tradisi Manyanggar Adat kembali digelar sebagai wujud syukur sekaligus ikhtiar melestarikan identitas budaya Dayak yang telah hidup lintas generasi.

Tahun 2026 menjadi momentum istimewa. Selain memperingati Manyanggar Adat yang ke-89, masyarakat juga merayakan Hari Ulang Tahun ke-52 Desa Janggi. Dua peristiwa tersebut berpadu dalam sebuah prosesi adat yang tidak hanya sarat makna spiritual, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan warga.

Camat Karau Kuala, Adriansyah, menegaskan bahwa Manyanggar merupakan salah satu kekayaan budaya yang harus terus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat.

“Manyanggar Adat adalah warisan budaya yang telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Janggi. Ritual ini menjadi media komunikasi dengan ruh leluhur sebagai ungkapan rasa syukur, memohon perlindungan, menyampaikan hajat, membersihkan kampung dari hal-hal yang dianggap membawa pengaruh buruk, serta dalam kepercayaan masyarakat juga dimanfaatkan sebagai media pengobatan penyakit nonmedis,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Ia menilai, pelestarian tradisi tersebut tidak hanya mempertahankan nilai-nilai adat, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah mewariskan kearifan lokal hingga tetap lestari sampai sekarang.

Prosesi sakral itu dipimpin oleh Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Desa Janggi sekaligus pemimpin ritual, Aspul Anwar, putra dari almarhum Moekri atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kakek Pak Tulur. Sosok tersebut dikenal sebagai tokoh adat Desa Janggi sekaligus salah satu pelaku sejarah dalam legenda Tumpuk Watu, yang hingga kini masih hidup dalam tuturan masyarakat setempat.

Di balik nuansa spiritualnya, Manyanggar Adat juga menghadirkan makna sosial yang begitu kuat. Tradisi ini menjadi ruang berkumpulnya keluarga besar, sanak saudara, dan masyarakat dari berbagai tempat untuk mempererat tali silaturahmi, memperkokoh persatuan, serta menumbuhkan kembali semangat gotong royong.

Kebersamaan yang terbangun dalam setiap prosesi menjadi bukti bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi yang terus mengikat kehidupan masyarakat di masa kini.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua DAD Kecamatan Karau Kuala Zahrani, Damang Kepala Adat Kecamatan Karau Kuala Saprudin G, Bhabinkamtibmas Polsek Karau Kuala, Kepala Desa Janggi Fatli, para tokoh adat, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.

Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Manyanggar Adat Desa Janggi menjadi penanda bahwa kearifan lokal masih hidup di tengah masyarakat. Di saat banyak tradisi mulai tergerus zaman, masyarakat Desa Janggi memilih untuk tetap merawat akar budayanya, sebuah warisan yang tidak hanya menjaga hubungan dengan leluhur menurut kepercayaan adat, tetapi juga memperkuat identitas, persatuan, dan kebanggaan sebagai bagian dari tanah Dayak.(Red/J)


Periksa Juga

Dekranasda Kalteng Gelar Wastra Festival, Angkat Keindahan Budaya dan UMKM Lokal

        Pengunjung : 269 Palangka Raya, Betang.tv – Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-69 Provinsi …

Tinggalkan Balasan